Nim : 140300366-31
hakikat manusia dan pendidikan
Pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan manusia atau upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan martabat kemanusiaannya. Oleh karna itu pendidikan berarti upaya membantu manusia untuk menjadi apa, mereka dapat dan seharusnya menjadi maka pendidik calon pendidik perlu memahami hakikat manusia.
A. Pengertian Hakikat Manusia
manusia adalah makhluk bertanya, ia mempunyai hasrat untuk mengetahui segala sesuatu . Sebagaimana anda maklumi.
Menurut
bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal
segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala
sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dikalangan tasawuf orang mencari
hakikat diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul kata-kata diri mencari
sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati,
roh, nyawa, dan rahasia.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt.
Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas
mereka sebagai khalifah di muka dumi ini.Dikitab suci menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Jadi hakekat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai
makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Hakekat
Manusia Menurut Pandangan Umum Ialah Sebagai Berikut:
Pembicaraan
manusia dapat ditinjau dalam berbagai perspektif, misalnya perspektif
filasafat, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, dan spiritualitas Islam
atau tasawuf, anatar lain :
a. Dalam perspektif filsafat.
Disimpulkan bahwa manusia merupakan hewan
yang berpikir karena memiliki nalar intelektual. Dengan nalar intelektual
itulah manusia dapat berpikir, menganalisis, memperkirakan, meyimpulkan,
membandingkan, dan sebagainya. Nalar intelektual ini pula yang membuat manusia
dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antara yang salah dan yang
benar.
1. Hakekat Manusia
Pada saat-saat tertentu dalam
perjalanan hidupnya, manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan
asal-usul keber-ada-an dirinya sendiri. Terdapat dua aliran pokok
filsafat yang memberikan
jawaban atas pertanyaan tersebut,
yaitu Evolusionisme dan
Kreasionisme (J.D. Butler, 1968). Menurut Evolusionisme, manusia adalah hasil
puncak dari mata
rantai evolusi yang
terjadi di alam
semesta. Manusia sebagaimana
halnya alam semesta ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran
ini antara lain Herbert Spencer, Charles Darwin, dan Konosuke
Matsushita. Sebaliknya, Kreasionisme menyatakan bahwa asal usul manusia
sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan suatu Creative Cause atau
Personality, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Penganut aliran ini antara lain Thomas
Aquinas . Memang kita dapat
menerima gagasan tentang
adanya proses evolusi
di alam semesta termasuk
pada diri manusia,
tetapi tentunya kita menolak pandangan yang menyatakan adanya manusia di alam
semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri, tanpa
Pencipta.
2. Wujud dan Potensi Manusia.
Wujud Manusia. menurut penganut
aliran Materialisme yaitu Julien
de La Mettrie bahwa esensi
manusia semata-mata bersifat
badani, esensi manusia
adalah tubuh atau fisiknya. Sebab
itu, segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah
dipandangnya hanya sebagai
resonansi dari berfungsinya
badan atau organ
tubuh. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa. Contoh: Jika ada organ tubuh
luka muncullah rasa sakit.
Pandangan hubungan antara
badan dan jiwa
seperti itu dikenal
sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968). Bertentangan dengan
gagasan Julien de
La Metrie, menurut Plato salah seorang penganut
aliran Idealisme -bahwa esensi
manusia bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah. Memang Plato
tidak mengingkari adanya
aspek badan, namun menurut
dia jiwa mempunyai
kedudukan lebih tinggi
daripada badan.
b. Dalam Perspektif Ekonomi.
Dalam perspektif ekonomi, manusia adalah
makhluk ekonomi, yang dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari
persoalan-persoalan ekonomi. Komunikasi interpersonal untuk memenuhi
hajat-hajat ekonomi atau kebutuhan-kebutuhan hidup sangat menghiasi kehidupan
mereka.
c. Dalam Perspektif Sosiologi.
Manusia adalah makhluk social yang sejak
lahir hingga matinya tidak pernah lepas dari manusia lainnya. Bahkan, pola
hidup bersama yang saling membutuhkan dan saling ketergantungan menjadi hal
yang dinafikkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
d. Dalam Perspektif Antropologi.
Manusia adalah makhluk antropologis yang
mengalami perubahan dan evolusi. Ia senantiasa mengalami perubahan dan
perkembangan yang dinamis.
e. Dalam Perspektif Psikologi.
Manusia adalah makhluk yang memiliki
jiwa. Jiwa merupakan hal yang esensisal dari diri manusia dan kemanusiaannya.
Dengan jiwa inilah, manusia dapat berkehendak, berpikir, dan berkemauan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar